Rabu, 20 Juli 2011

SEJARAH POMPARAN RAJA NAI AMBATON

Raja Nai Ambaton/Tuan Sorba Dijulu adalah anak sulung dari Tuan Sorimangaraja. Tuan Sorba Dijulu dikatakan memiliki 4 orang anak namun ada juga yang mengatakan 5 orang anak, namun Tuan Sorba Dijulu hanya memiliki satu orang boru yang menikah dengan Raja Silahisabungan dan melahirkan anaknya yang diberi nama Silalahi Raja. Anak Tuan Sorba Dijulu/Nai Ambaton adalah 

1. Simbolon Tua
2. Tamba Tua
3. Saragi Tua
4. Munthe Tua
5. Nahampun Tua
6. Sada boru Pinta Haomasan
 Sekilas perjalanan Pomparan Raja Nai Ambaton dohot Pinomparna

Diperkirakan Op. Tuan Sorba Dijulu tinggal di sekitar Pusuk Buhit, dengan istrinya nai ambaton yang merupakan boru pinompar ni Guru Tatea Bulan yang diketahui nama op. boru itu adalah Siboru Anting Bulan yang marhuta di huta Parik Sabungan (sudah ada yang pernah datang ketempat ini).

Diperkirakan Tuan Sorba Dijulu merantau ke Dolok Paromasan, disinilah lahir anak-anaknya Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munthe Tua (kita buat 4 dulu anaknya Tuan Sorba Dijulu karena Nahampun masuk Simbolon) dan satu borunya Pinta Haomasan.

Namun di satu sisi Tuan Sorba Dijulu dikatakan memiliki 2 orang istri, istri pertama anaknya adalah Simbolon Tua sedangkan dari istri kedua anaknya adalah Tamba Tua, Saragi Tua, dan Munthe Tua. Namun ketika itu dari istri pertama lama lahir Simbolon Tua, sehingga lebih dulu lahir Tamba Tua dari istri kedua. Setelah lahir Tamba Tua terlebih dahulu lahirlah Simbolon Tua dari istri pertama, namun tidak diketahui apakah Saragi Tua dan Munthe Tua dulukah yang lahir baru Simbolon Tua, atau Simbolon Tua dulukah kemudian lahir Saragi Tua dan Munthe Tua dari istri kedua. Namun menurut perkiraan kembali, lebih dulu lahir Saragi Tua baru Simbolon Tua kemudian Munthe Tua, ini menurut analisa generasi dari tiap-tiap keturunan yang ada hingga saat ini.

Lambat laun anak-anak dan boru Tuan Sorba Dijulu bertumbuh besar, sampai pada akhirnya Tamba Tua yang secara usia lebih sulung dari anak-anak Tuan Sorba Dijulu dengan Simbolon Tua yang merasa dialah anak siakkangan karena lahir dari istri pertama bertengkar berebut hak kesulungan, sampai pada akhirnya pertengkaran ini didengar Tuan Sorba Dijulu, akhirnya Tuan Sorba Dijulu dengan bijaksana menentukan siapakah yang pantas dan memang sebenarnya yang menjadi sulung di Tuan Sorba Dijulu, akhirnya Tuan Sorba Dijulu mengadu kedua anaknya, dikatakan siapa yang berdarah atau terluka, dialah yang sianggian dan siapa yang tidak dialah siakkangan. Maka diberikan senjata yang sama kepada mereka berdua, senjata tersebut berupa ‘ultop’, namun ultop yang diberikan kepada Tamba Tua adalah ultop yang ujungnya tumpul, sedangkan ultop yang diberikan kepada Simbolon Tua adalah ultop yang runcing dan tajam. Dan akhirnya rencana Tuan Sorba Dijulu pun berhasil, Tamba Tua terluka dan berdarah dan secara otomatis menunjukkan Simbolon Tualah anak siakkangan, ini merupakan cara Tuan Sorba Dijulu kepada mereka tanpa membuat tersinggung mereka, tanpa adanya pemikiran pilih kasih.

Semenjak hal tersebut, kejadian itu membuat Tamba Tua, Saragi Tua dan Munthe Tua untuk pergi meninggalkan Dolok Paromasan, hingga akhirnya mereka menemukan tempat baru di kecamatan Sitio-tio dan diberi nama Huta Tamba, disinilah tinggal Tamba Tua, Saragi Tua, dan Munthe Tua. Namun tidak alama pomparan Saragi Tua akhirnya merantau ke daerah Simanindo. Lama pomparan mereka terus berkembang hingga membuat pinomparna pergi merantau ke luar huta Tamba, akhirnya pomparan Tamba Tua banyak yang merantau dan sebagian tinggal pomparannya di huta Tamba, mereka inilah yang terus menggunakan marga Tamba hingga saat ini, sedangkan pomparan Tamba Tua yang merantau pada akhirnya menjadi marga mandiri, dan kebanyak mereka merantau ke daerah Simanindo, adapun marga-marga mandiri keturunan Tamba Tua ini adalah Siallagan, Turnip, Si Opat Ama (Sidabutar, Sijabat, Siadari, Sidabalok), Rumahorbo,  napitu dan Sitio. Di satu sisi, pomparan Saragi Tua hampir semua meninggalkan huta Tamba dan hidup mandiri ke daerah Simanindo dan lain-lain, begitupun juga dengan pomparan Munthe Tua yang merantau ke karo, barus, simalungun, dan balik ke daerah pangururan dan lain-lain, namun masih ada sebagian dari Pomparan Munthe Tua ini yang hingga saat ini tinggal dan menetap di Huta Tamba. 

Di satu sisi ada cerita yang mengatakan semenjak kejadian perebutan hak sulung, Tamba dan adiknya ingin dibunuh oleh Simbolon Tua karena dendam kepada Tamba Tua yang telah merebut hak kesulungannya, namun rencana itu diketahui itonya Pinta Haomasan, dan Pinta Haomasan menyuruh mereka untuk pergi dari Dolok Paromasan.

Suatu ketika, datanglah keturunan Saragi Tua, dari Op. Tuan Binur yang diwakili oleh Si Mata Raja datang ke tanah Tamba untuk mengambil warisan sang ayah dan sang opung yang ada di tanah Tamba, dan pada saat itu disambut oleh Tamba bersaudara, setalah Mata Raja melaksanakan tugasnya Mata Raja bertemu dengan Siallagan dan Turnip yang pada waktu itu berperang melawan kerajaan dari Simalungun, maka karena Siallagan dan Turnip merupakan saudaranya dibantulah mereka, sekilas akhirnya Mata Raja berhasil mengusir musuh hingga lari ketar-ketir. Sejak saat itu, maka Siallagan dan Turnip merasa sangat senang, maka dibuatlah padan diantara mereka bertiga, dan Mata raja diajak untuk tinggal bersama mereka, namun Mata Raja tidak mau dan lebih memilih untuk kembali ke tempatnya.

Di satu sisi, keturunan Munthe Tua banyak yang sudah merantau, salah satunya Pangururan. Keturunan sulung Munthe Tua Raja Sitempang lahir dengan keadaan cacat fisik, sehingga dia diasingkan oleh orangtuanya, disana dia bertemu dengan si boru marihan yang juga lahir dengan keadaan cacat fisik, anak dari Raja Sitempang adalah Raja Na Tanggang yang merantau ke Pangururan dan menikahi boru Naibaho sehingga menetap dan tinggal di Pangururan, di lain pihak ternyata adik dari boru Naibaho istri Raja Na Tanggang ini dinikahi oleh keturunan Simbolon Tuan Nahoda Raja, keturunan dari Simbolon Tua/boru Limbong. Mulai disinilah terjadinya perbedaan pandangan karena Raja Na Tanggang yang merupakan keturunan dari Munthe Tua menikahi boru naibaho siakkangan menganggap dialah siabangan daripada Simbolon Tuan Nahoda Raja yang merupakan anak Simbolon Tua yang menikahi boru naibaho siampudan. Muncullah katai damai dari Tulang, rap marsihahaan rap marsianggian. Karena Sitanggang dan Simbolon telah menikahi boru Raja Naibaho, maka diberikanlah kepada Sitanggang dan Simbolon bius sebagai boru. Itulah yang dikenal dengan nama bius si tolu aek horbo. Keturunan Raja Sitempang, Sitanggang Bau pun bertemu dengan Gusar yang merupakan generasi ke 13 si Raja Batak yang ketika itu membantu Sitanggang Bau melawan musuhnya. Anak-anak Munthe Tua yang kedua dan ketiga yaitu Ompu Jelak Maribur dan Ompu Jelak Karo yang merantau ke Simalungun, dan Ompu Jelak Karo ke tanah karo, jadi salah bila beranggapan Munthe itu berasal dari karo, jadi dari kedua ompu inilah yang masih menggunakan marga leluhurnya, namun bagi yang di karo menjadi marga mandiri seperti Ginting sama seperti anak siakkangan Munthe Tua yang menjadi marga mandiri Sitanggang. 

Namun ketika jaman Belanda, dimana Belanda untuk menguasai kekayaan bumi yang ada di samosir di Pangururan memanggil raja-raja untuk dijadikan kepala nagari, begitu juga dengan Sitanggang yang diberikan daerah kekuasaan dengan menjadi Raja Pangururan karena dia memiliki sebagian besar bius karena menikahi boru siakkangan Naibaho. Diperkkirakan disinilah terjadinya turut campur Belanda dalam mencampuri dan membuat berantakan tarombo, karena banyak raja-raja pada waktu itu tidak datang dan diwakilkan oleh adiknya atau kepercayaannya yang masih satu marga, namun tidak disangka mereka ditawarkan menjadi kepala nagari, ada yang tergiur dan ada yang menolak hingga mereka yang dijadikan kepala nagari itu yang merupakan utusan dari raja daerah/abangnya mengaku sebagai abangan karena telah menjadi kepala nagari.

Dolok Paromasan terletak di daerah Pangururan, namun Dolok Paromasan ini adalah miliki Tuan Sorba Dijulu lain dengan kota Pangururan.


PINTA HAOMASAN
Namboru Pinta Haomasan adalah boru sasada Tuan Sorba Dijulu yang tinggal di Dolok Paromasan bersama dengan itonya Simbolon Tua, karena itonya Tamba Tua dan adik-adiknya pergi meninggalkan akibat kejadian hak sulung. Namboru Pinta Haomasan muli ke Raja Silahisabungan dengan anaknya Silalahi Raja, karena pada saat itu pariban Silalahi Raja hanya ada dari boru tulangnya Simbolon Tua, karena ketiga tulangnya telah meninggalkan huta, maka Silalahi Raja mengambil boru Tulangnya dari Simbolon Tua hingga beberapa generasi. Karena mengambil boru tulangnya dari Simbolon, maka sama seperti yang dilakukan oleh Raja Naibaho kepada Simbolon maka dilakukan juga hal tersebut kepada Silalahi Raja, diberikannlah bius boru kepada Silalahi Raja, namun karena Simbolon Tua sadar bahwa tanah leluhurnya Tuan Sorba Dijulu di Dolok Paromasan bukanlah hanya miliknya, maka bius Tamba Tua, Saragi Tua dan Munthe Tua ikut diberikan didalamnya. 

Bius disini bius di Dolok Paromasan berbeda dengan bius Pangururan yang diberikan Raja Naibaho, karena diperkirakan Pangururan adalah wilayah kekuasaan Tuan Sorimangaraja. 

Marga Parna di Pak-pak dan Aceh

Banyak marga-marga parna yang merantau ke tanah pak-pak dan menjadi besar, mulai dari keturunanya di Pak-pak dari keturunan Simbolon Tuan, Sigalingging dan Munthe. Misalnya Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turuten, Pinayungan, Nahampun, dll, begitu juga marga Saraan, Kombih dan Berampu yang berada di sekitar Aceh (Singkil).

Horong Marga-Marga Parna

SIMBOLON TUA
1. Simbolon Tuan Nahoda Raja
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Pasi
5. Maharaja
6. Turuten
7. Pinayungan
8. Nahampun
9. Simbolon Altong Nabegu
10. Simbolon Pande Sahata
11. Simbolon Juara Bulan
12. Simbolon Suhut Ni Huta
13. Simbolon Rimbang
14. Simbolon Hapotan

15. Ginting Tumangger (Tumanggor di Karo)

TAMBA TUA

 1. Tamba
2. Siallagan
3. Turnip
4. Sidabutar
5. Gusar (keturunan Sijabat - Padan Sitanggang)
6. Sijabat
7. Saragi Dajawak (Sijabat di Simalungun)
8. Ginting Jawak (Sijabat di Karo)
9. Siadari
10. Sidabalok
11. Rumahorbo
12. Napitu
13. Sitio
14. Sidauruk



SARAGI TUA
 
1. Simalango
2. Saing
3. Simarmata
4. Nadeak
5. Sumbayak
6. Sidabukke (sudah keluar dari parna)



MUNTHE TUA

1. Sitanggang bau
2. Sitanggang lipan
3. Sitanggang upar
4. Sitanggang silo
5. Manihuruk
6. Sigalingging
7. Garingging
8. Tendang
9. Banuarea
10. Boang Manalu
11. Bancin
12. Bringin
13. Gajah
14. Brasa
15. Manik Kecupak
16. Saraan
17. Kombih
18. Berampu
19. Munthe
20. Haro
21. Siambaton
22. Saragi Damunte
23. Dalimunthe
24. Ginting Baho,
25. Ginting Beras,
26. Ginting Capa,
27. Ginting Guru Putih,
28. Ginting Jadibata,
29. Ginting Manik,
30. Ginting Munthe,
31. Ginting Pase,
32. Ginting Sinisuka,
33. Ginting Sugihen

* Namun ini masih membutuhkan penyempurnaan yang lebih lagi



Pesan atau Tona dari Ompung Raja Nai Ambaton tu Pinomparna PARNA

Di hamu sude pinomparhu na mamungka huta di desa naualu di Tano Sumba, di na manjujung baringin ni Raja Harajaon ni Raja Isumbaon. Partomuan ni aek Partomuan ni Hosa. Mula ni jolma tubu, mula ni jolma sorang. Asa tonahonon ma tonangkon tu ganup pinomparmu ro di marsundut-sundut. Asa sisada anak, sisada boru…. Hamu sisada lungun, sisada siriaon, naunang, natongka, na so jadi masibuatan hamu di pinompar muna manjujung goarhu Si Raja Nai Ambaton Tuan Sorba di Julu Raja Bolon. Asa ise hamu di pomparanhu namangalaosi tonangkon, tu hauma i sitabaon, tu tao ma i sinongnongon, tu harangan mai situtungon. Sai horas horas ma hamu sude pinomparhu di namangoloi podangki.


Padan ni Raja Naiambatoni
Ima padan nasoboi oseon
Si ingoton ni angka pinomparnai
Diparrohahon mai denggan-denggan
Ditikki mambahen pesta parna i
Tung tarida do sada ni roha
Naso jadi marsiolian parnai
Diparrohahon mai denggan-denggan
REFF:
Naimbaton baima parna
sitokka doi dainang
sitokka doi dainang marsiolian
Ai molo disimalungun parnai
disaragihon ma muse margana
lao muse tu Tano Karo parnai
Dibahen madisi marga Ginting
Ai molo ditano Pakpak parnai
dibahen ma Banurea
lao muse ma da tu selatan parnai
dibahen ma disi Dalimunthe
REFF:
Sadia godang anak ni parna
tung naso jadi doi
tung naso jadi doi marsiolian


NB. Disatu sisi ada versi lain yang mengatakan bahwa Simbolon Tua bersama Pinta Haomasan adalah anak Tuan Sorba Dijulu dari istri kedua sedangkan istri pertama melahirkan Tamba Tua, Saragi Tua, Munthe Tua dan Nahampun Tua.Dimana Simbolon Tua yang lebih tua lahir duluan dari istri kedua mengambil semua harta ayahnya, suatu ketika Tamba Tua datang untuk meminta bagian dari Tamba Tua dan adik-adiknya namun Simbolon Tua tidak mengindahkannya dan mengabaikannya, sejak saat itu pergilah Tamba Tua dan adiknya Saragi Tua, Munthe Tua dan Nahampun Tua. Oleh karena itu ketika lahir Simbolon Tua dari istri kedua Tuan Sorba Dijulu diberi nama Ompu Raja Nabolon karena lebih dulu lahir Simbolon Tua daripada Tamba Tua. Jadi dari segi urutan lahir, maka Simbolon menjadi yg Sulung bagi mereka semua yg satu ayah walau berbeda ibu. Dibelakang hari, konon terjadi perselisihan sesama mereka, agaknya perselisihan itu adalah antara yg paling tua dgn adek-adeknya, sehingga konon empat adeknya (Tamba, Saragi, Munthe, Nahampun) nekad meninggalkan SImbolon - Tamba ke negeri Tamba, Saragi ke SImalungun tapi dimasa tua pulang lagi ke Samosir, Munthe ke Paropo, Nahampun ke Dairi. Dikemudian hari, konon Simbolon merindukan adek2nya (mungkin ia kesepian, mungkin ia diejek orang lain, mungkin ia butuh kekuatan) lalu mulai mencari supaya hubungan persaudaraan dipulihkan kembali. Satu-satunya yg mudah ia temukan adalah keluarga Tamba di negeri Tamba, sebab masih dekat dari Samosir, yg lainnya jelas sulit dijangkau apalagi bayangkan dimasa kuno dulu betapa sulitnya komusikasi dan transportasi dan keamanan. Yg terakhir sekali, Saragi Tua juga merindukan kampungnya dan saudaranya maka ia pulang, konon katanya Saragi Tua pulang sdh pakai DETAR (detar adalah pertanda sdh memiliki ilmu yg tinggi, sdh biasanya yg begini sdh pantas jadi tempat berguru dan punya murid). Dan Tamba Tualah yang menikahkan Pinta Haomasan kepada Raja Silahisabungan dan pada saat itu Simbolon Tua tidak tau entah kemana. Namun penyebaran pomparannya hampir kurang lebih sama seperti diatas. namun apabila versi ini adalah benar adanya seharunya Tamba Tualah sulung di Parna dan Simbolon Tualah siampudan/bungsu di Parna. Jadi anak Tuan Sorba Dijulu dari 2 istri ialah :
istri pertama
1. Tamba Tua
2. Saragi Tua
3. Munthe Tua
4. Nahampun Tua

istri kedua
1. Simbolon Tua
2. Pinta Haomasan


namun informasi diatas masihlah membutuhkan penyempurnaan yang lebih dalam lagi.

Sumber : berdasarkan hasil analisa, diskusi dan penelitian peneliti



11 komentar:

  1. Sattabi di Raja i, baliga ma binaligahon, barita ma binaritahon, didok barita na binege Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan mangalap boru Sidari, jala pahompuna ima anak ni Hutagurgur na margoar Tuan Hinalang Lumbantoruan mangalap boru Tamba, sian ima tubu anakna na margoar Juara Pagi Lumbantoruan dungi laho ma ibana muse tu Sibisa mangalap boru Manurung, tubu ma anakna opat na i. Mauliate. Note : Sahat tu sadarion ndang binoto do pe secara resmi isteri ni Borsak Sirumonggur-Lumbantoruan, jadi atik na boi do diteliti hamu na adong borumuna na marhamulian tu Sihombing Lumbantoruan, mansai arga jala sangap do somba nami tu hamu molo adong dapot informasi sian Rajai....Horas, mauliate

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ala na mencoba menelusuri do hamuna, paboaonku do na adong TONA tu hami Pomparan ni Simbolon Tuan Juara Bulan. Agak berbeda tu na nibotomuna i nian, alai sai adong do guna ni i, songon on ma :
      Isteri kedua ni si Suri Raja (anak Pertama Simbolontua)na margoar Si Liang Nagurasta (Putri Dewata) nangkok tu bulan (habang), alai dang porsea si Suri Raja, "pasti do songgop ibana di sada inganan" ninna rohana. Laho ma ibana mangalului, jala dang marnamulak. Disuru isteri pertama (permaisuri) ma anak pertama ni si Leang Nagurasta namargoar si Bulan (baca STJB = Simbolon Tuan Juara Bulan) mangalului bapana i. Hape di Parranginan (Muara)dapot rongkap ma ibana tu Boru Siburian Sihonongon(Putri dari Raja Mangalengleng). Opat ma pinomparna, tolu baoa, sada boruna margoar Si Laut Ra Tio. Mulak ma si STJB tu Siambalo-Pangururan, ditiopi ompungna ma si Laut Ra Tio boruna i, asa diingot si STJB nian ro tu Parranginan, hape dang marnaolo ro si STJB. Boruna si Laut Ra Tio nunga magodang, ro ma si Lumbantoruan mangaririt, didokkon si Raja Mangalengleng ma i boruna, saut ma nasida.
      I ma TONA nanijalonami, sahat ro di sadarion dang pola do pe haru hot panghorhon ni tona on, di Siantar sipata digora STJB do Lumbantoruan. Ninna : Sihombing Lumbatoruan Hutagurgur ma helanami i.

      Hapus
  2. Horas ma dihamu Rajanami.
    Molo parboruan nami, ima namboru nami holan dua do takkas diboto hami ima ibotoni Tamba Tua Pinta Haomasan dohot helani Tamba Tua Sihotang. Tung pe adong barita songon na nidok muna on, barita nauli jala nadenggan doi. Molo secara pribadi ndang takkas huboto adong do namboru nami na marhamuliaan tu Tuan Hinalang Lumbantoruan, alai adong informasi na mandok ai ndang holan Sihotang do helani Tamba Tua alai sian keturunan Tamba Tua generasi papigahon adong do boruna na nialap marga Sihombing. Holan sahat disi ma informasina, jala ndang dipatakkas sihombing lumbantoruan do, alai tung pe didok hamu adong ompu muna mangalap boru Tamba boru nami, ai pos do roha nami mambege barita nauli i, berarti ndang holan sekedar informasi nahubegei alai nga dipatakkas hamu kecocokan informasi na hubegei. Alai suang songoni hupatakkas ma muse tu natua-tua di huta khususna di huta Tamba molo mulak iba tu huta. Mauliate ma dihamuna Gabe Jala Horas.

    BalasHapus
  3. molo tarombo sian lumban siojung dohot sian pitu raja, boi do di tampilhon hamu?? ase songonna berimbang mengenai masalah tarombo on..mauliate

    BalasHapus
  4. shearing,....banyak tutur / legenda dari semua pomparran parna tidak ada yg sama, semua mengaku sintua,...semuanya benar tidak ada yg salah,...yg saya mungkin pertanyakan disini kenapa kok ? diketurunan Op Tamba tua mengaku kembali ke marga asalnya yaitu dari OP parsakti ulu balang yaitu keturunan dari Op marhati ulu balang memakai marga dari OP munte tua?....ini harus dijelaskan jangan ditutup-tutupi,...ini saja dulu pertanyaan saya !...trima-kasih

    BalasHapus
  5. Keraguan akan kesimpangsiuran tarombo/ceritra/legenda atau apa pun namanya memang perlu harus ada solusinya, dan tidak perlu 'ngotot' mempertahankan kebenaran TONA yang diterima. Kita harus mampu menghargai perbedaan, justru itu akan memperkaya budaya. Terlebih soal siapa yang duluan lahir anak dari isteri ke berapa, ini tak lebih dari hanya romantika TONA itu sendiri. Kita lihat apa adanya sekarang saja (sudah cukup bagus kok), polemik-polemik mungkin hanya akan tambah memperkeruh 'kesimpangsiuran' itu.

    BalasHapus
  6. Shallom,

    Saya ada satu pertanyaan saja, apakah keturunan pertama dari Tamba Tua itu bernama Tamba?

    Terima Kasih sebelumnya.
    HOrass
    -Ariel Bastian Tamba (Lumban Tonga-Tonga)

    BalasHapus
  7. Parjolo sahali santabi dipomparan raja naiambaton..Saya sangat keberatan jika dikatakan oppung raja sitempang adalah anak dari munte, alasan dari mana pula ŧυђђ ! Kalo Ɩªªђђ oppung Raja Sitempang anak dari munte dimana dipangururan bona pasogitnya ? Bukti raja sitanggang menjadi gelar raja pangururan adalah warisan tanah leluhur ompung Tuan Raja Naiambaton turun temurun dari ompui Raja Isombaon karena hak siakkangan dari oppung Raja Sitempang.. Kurang lebih bah pauk-pauk ni hudali pago-pago ni tarugi. Mauliate

    BalasHapus
  8. terus kalo gitu,kenapah ama rimbun sitanggang cs slalu manggil ahadoli ke simbolon kalo di ulaon padahal selevel katanya sama sitimpang??:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
  9. molo na huboto jala gabe pengalaman ma on, sude marga di halak batak simpang siur dope. Alai ikkon maklum ma hita disi, asalma dang adong ginjang ni roha...

    BalasHapus